Menolak Lupa: Jejak Panjang Sejarah Banten dari Kesultanan hingga Berdiri Menjadi Provinsi Sendiri
SERANG, INFO SEPUTAR DESA – Banten bukan sekadar wilayah di ujung barat Pulau Jawa. Di balik statusnya sebagai provinsi yang mandiri sejak tahun 2000, Banten menyimpan rekam jejak sejarah yang sangat disegani, bahkan hingga ke kancah internasional.
Mari kita ulas kembali perjalanan panjang "Tanah Jawara" ini dari masa kejayaan hingga menjadi provinsi yang kita tempati sekarang.
1. Masa Kejayaan: Gerbang Perdagangan Dunia Sejarah mencatat, Banten mulai bersinar pada abad ke-16 di bawah kepemimpinan Sultan Maulana Hasanuddin. Berkat letak geografisnya yang strategis di tepi Selat Sunda, Banten tumbuh menjadi salah satu pelabuhan internasional terbesar di Asia Tenggara.
Puncaknya terjadi pada masa Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu, Banten dikenal sebagai pusat perdagangan lada dunia yang menolak tunduk pada monopoli Belanda (VOC). Banten menjadi simbol perlawanan dan kemandirian ekonomi yang luar biasa.
2. Era Keresidenan di Bawah Jawa Barat Setelah runtuhnya masa kesultanan akibat politik adu domba kolonial, wilayah Banten secara administratif dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan Belanda dan kemudian menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945.
Selama puluhan tahun, Banten menyandang status sebagai Keresidenan. Namun, karena letaknya yang jauh dari pusat pemerintahan di Bandung, muncul aspirasi dari para tokoh masyarakat agar Banten dikelola secara mandiri demi percepatan pembangunan.
3. Perjuangan Menjadi Provinsi (Reformasi 1998) Gema tuntutan untuk memisahkan diri dari Jawa Barat semakin kuat pasca reformasi 1998. Para tokoh ulama, intelektual, pemuda, dan jawara bersatu membentuk berbagai wadah perjuangan, salah satunya adalah Bakor (Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten).
Alasan utamanya jelas: Masyarakat Banten ingin potensi daerahnya dikelola sendiri untuk kesejahteraan rakyat setempat, mengingat Banten memiliki potensi industri, pariwisata, dan pelabuhan yang sangat besar.
4. Ketuk Palu: 4 Oktober 2000
Perjuangan panjang tersebut membuahkan hasil manis. Pada tanggal 4 Oktober 2000, DPR RI secara resmi mengesahkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten.
Sejak saat itu, Banten resmi berpisah dari Jawa Barat dengan Serang sebagai ibu kotanya. Provinsi Banten pun lahir sebagai provinsi ke-30 di Indonesia, yang kini mencakup 4 kabupaten (Pandeglang, Lebak, Tangerang, Serang) dan 4 kota (Tangerang, Cilegon, Serang, Tangerang Selatan).
Pesan untuk Generasi Sekarang
Berdirinya Provinsi Banten bukan sekadar perubahan administrasi, melainkan hasil keringat dan doa para pendahulu. Sebagai warga, khususnya di wilayah pedesaan seperti di Kecamatan Sumur dan sekitarnya, tugas kita adalah menjaga warisan ini dengan terus berkarya dan membangun desa.
"Banten bukan sekadar tempat tinggal, tapi tanah perjuangan yang harus kita bangun bersama."
Penulis: Enton Sultoni
Sumber: Arsip Sejarah Banten & UU No. 23/2000
Media: Info Seputar Desa (ISD)


Komentar
Posting Komentar