Sejarah Cimanggu dan Sumur: Dua Wilayah Tak Terpisahkan di Ujung Barat Pandeglang
PANDEGLANG, INFO SEPUTAR DESA – Berbicara tentang ujung barat Kabupaten Pandeglang tidak akan lengkap tanpa membahas Kecamatan Cimanggu dan Kecamatan Sumur. Meski kini keduanya berdiri sebagai administrasi yang berbeda, secara historis dan sosiokultural, Cimanggu dan Sumur adalah dua wilayah yang memiliki keterikatan batin dan sejarah yang sangat kuat.
Dahulu, wilayah Sumur merupakan bagian dari Kecamatan Cimanggu. Luasnya wilayah di ujung semenanjung Ujung Kulon ini membuat pemerintah akhirnya melakukan pemekaran wilayah guna mempercepat pelayanan publik dan pembangunan.
Cimanggu, yang namanya diambil dari unsur alam yakni Ci (Air) dan Manggu (Manggis), secara historis menjadi pusat pemerintahan di wilayah barat sebelum Sumur berkembang pesat sebagai pusat aktivitas pesisir.
Sejarah kedua kecamatan ini juga lekat dengan catatan kelam letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Wilayah pesisir Sumur sempat luluh lantak diterjang tsunami dahsyat, yang memaksa penduduknya saat itu bergerak mencari perlindungan ke dataran yang lebih tinggi di wilayah Cimanggu.
"Hubungan antara warga Cimanggu dan Sumur itu bukan sekadar tetangga kecamatan, tapi hubungan persaudaraan. Banyak warga Sumur yang punya kerabat di Cimanggu, begitu juga sebaliknya," ujar salah seorang tokoh masyarakat setempat.
Kini, baik Cimanggu maupun Sumur dikenal sebagai "Pintu Gerbang Dunia". Hal ini dikarenakan posisi strategis keduanya yang mengapit kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).
Jika Cimanggu menjadi jalur utama akses darat yang menyuguhkan pemandangan perbukitan dan pertanian, Sumur menjadi beranda depan bagi wisata bahari dan konservasi badak jawa yang telah diakui oleh UNESCO.
Secara ekonomi, kedua wilayah ini saling melengkapi. Hasil bumi dari pegunungan di Cimanggu seringkali didistribusikan ke Sumur, sementara hasil laut segar dari perairan Sumur menjadi komoditas utama yang mengalir ke pasar-pasar di Cimanggu.
Dengan semangat kebersamaan, kini masyarakat di kedua kecamatan tersebut terus bersinergi membangun desa. Melalui publikasi sejarah ini, diharapkan generasi muda tidak melupakan akar budaya dan persaudaraan yang telah terjalin sejak zaman nenek moyang di tanah Pandeglang Barat.
Penulis: (Tablo)
Editor: (Jefri Ireng)






Komentar
Posting Komentar